Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

Wajib, Lo, Menggali Rasa Ingin Tahu Anak

Jangan bingung apalagi merasa terganggu menghadapi si kecil yang ceriwis dan banyak tanya. Kita harus optimal menggali rasa ingin tahunya agar ia tak jadi pribadi "kerdil".
Kalau kita cuek atau malah merasa terganggu, bisa merugikan perkembangan wawasan dan kepribadian anak. Begitu pun kalau kita selalu melarang atau sebaliknya, kelewat melindungi. Nanti ia jadi enggak PD, lo, alias tak percaya diri, enggak punya inisiatif, selalu ragu-ragu, dan cenderung menarik diri dalam pergaulan. Kasihan, kan?
Itulah mengapa, tegas Evi Sukmaningrum, SPsi , orang tua harus bekerja keras menggali rasa ingin tahu anak sedini mungkin. Soalnya, di usia 2-3 tahun biasanya anak mulai pintar ngoceh banyak tanya mengenai hal-hal yang ada di sekitarnya. "Rasa ingin tahunya begitu besar karena ia tengah memasuki masa bermain. Anak mulai nenangga  dan berinteraksi dengan orang lain. Ia bertemu dengan hal-hal baru di luar rumah dan tak lagi terbatas pada lingkungan di rumahnya saja," papar pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta, ini. Meskipun sebetulnya rasa ingin tahu anak sudah muncul sejak usia 1 tahun. Hanya saja di usia itu anak masih sebatas observer . Gerakannya masih terbatas pada sekadar mengamati dan memegang, belum bisa mengekspresikan rasa ingin tahunya secara verbal. Itulah mengapa, komunikasi verbal yang intens antara orang tua dan anak sangat diperlukan karena akan melatih keterampilannya bicara, disamping dapat membantu mengembangkan kemampuan otaknya.

SERTAI ALAT PERAGA
Jadi, Bu-Pak, bila si kecil usianya sudah 2-3 tahun namun cenderung pasif dan enggak banyak tanya, saran Evi, cari tahu penyebabnya. Bila mengalami keterlambatan bicara seperti yang banyak terjadi, berarti hambatan untuk berbicara dan bertanya itulah yang harus ditangani lebih dulu. Lewat pemeriksaan yang lebih seksama di bagian saraf, misalnya, karena tak tertutup kemungkinan saraf-saraf yang berkaitan dengan perangkat wicaranyalah yang mengalami gangguan. Atau, bisa jadi otot-otot alat bicaranya, terutama lidah, belum matang atau berkembang sempurna.
Tapi kalau perkembangannya berjalan wajar, ketika ia mulai menunjukkan rasa ingintahu, kita harus peka dan segera merespon dengan memberi keterangan sejelas-jelasnya namun singkat dan disesuaikan dengan bahasa anak seusianya. Kita harus bangga dan senang, lo, kalau si kecil rajin bertanya dan ingin tahu sesuatu karena hal ini sangat positif. "Itu tandanya anak punya minat untuk bereksplorasi terhadap lingkungan sosialnya," jelas Evi. Jadi, kalau ia tanya soal binatang tertentu yang dilihatnya di TV, misalnya, ya, jelaskan. Sebaiknya, penjelasan verbal disertai alat peraga atau contoh konkret agar bisa dimengerti anak.
Misalnya, mengajak anak ke kebun binatang, sehingga ia bisa melihat secara konkret seperti apa binatang yang pernah ditanyakannya itu. Terlebih lagi bila pertanyaannya membutuhkan penjelasan yang tak mudah. Misalnya, anak menonton adegan mesra di TV lalu tanya, "Kok, orang itu ciuman?" Jawablah, "Itu berarti sayang," dan berikan contoh, "Nih, seperti Mama sekarang cium Ade, berarti Mama sayang Ade." Bagi anak, jawaban dengan contoh tersebut sudah cukup. Ia belum bisa, kok, membedakan antara ciuman bermakna sayang dan yang penuh nafsu.

HARUS KONSISTEN
Kalau kita memang benar-benar sibuk dan tak bisa sejenak pun meninggalkan kesibukan tersebut untuk menjawab pertanyaan si kecil, saran Evi, cobalah beri pengertian lebih dulu kepadanya. Misalnya, "Sayang, sekarang Mama harus menyelesaikan dulu pekerjaan Mama. Nanti kalau sudah selesai, Mama akan jawab pertanyaan Ade, ya." Dengan cara ini, jelas Evi, "anak sebetulnya juga terbantu untuk belajar memahami orang tuanya yang sibuk tanpa ia sendiri merasa di-reject  atau ditolak." Tapi tentu kita harus konsisten. Setelah selesai dengan pekerjaan tersebut, kita temui si kecil dan katakan, "Nah, sekarang Mama sudah selesai dengan pekerjaan Mama. Tadi Ade mau tanya apa?"
Hasilnya akan sangat berbeda, lo, bila kita bersikap enggak konsisten. "Selain rasa ingin tahu anak terpenuhi, respon orang tua juga akan semakin mendekatkan hubungan dengan anak," lanjut Evi. Tapi kalau kita enggak konsisten, hanya sekadar berjanji, maka yang ditangkap oleh anak adalah, "Ah, percuma. Mama bohong, kok." Secara tak langsung, kita pun telah menanamkan nilai buruk tentang kejujuran. Iya, kan? Selain itu, tambah Evi, "anak akan mencari dari sumber lain bila pemenuhan kebutuhan rasa ingin tahunya tak didapat dari orang tua, sementara sumber yang ia tanya belum tentu tepat."
Jikapun sumbernya tepat, tapi kalau tanpa penjelasan yang memadai, bukan tak mungkin pemahaman si anak jadi meleset. Celaka, kan? Belum lagi kalau anak tahu-tahu "pandai" omong kotor atau terbiasa menggunakan umpatan kasar. Bukankah jadi makin gawat? Memang sudah selayaknyalah bila kita mau sedikit "berkorban" untuk menjawab rasa ingin tahu si kecil. Begitu, kan, Bu-Pak?

DORONG BERPIKIR KRITIS
Penting diketahui, pemenuhan rasa ingin tahu anak menjadi salah satu modal bagi perkembangan kecerdasannya. Itulah mengapa, anak yang kritis dan banyak tanya memiliki korelasi untuk bisa digolongkan sebagai anak cerdas. Artinya, anak yang cerdas menunjukkan rasa ingin tahu dan kemampuannya untuk berpikir kritis. "Bukan berarti anak yang enggak berpikir kritis itu enggak cerdas, lo. Kalau orang tua memberi stimulasi pada anak yang kelihatannya pasif, tentu akan sangat membantu," tutur Evi.
Misalnya, "Ini apa, Nak?" sambil menunjukkan aneka benda berlainan bentuk dan warna. Atau, "ajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengundang kemampuan berpikir anak." Misalnya, "Kenapa binatang marah kalau diganggu?" Jadi, si kecil yang pendiam belum tentu enggak cerdas, ya, Bu-Pak. Bisa jadi ia pendiam lantaran Bapak-Ibu tak pernah meresponnya untuk banyak bicara ataupun mendorong berpikir kritis. "Yang juga kerap terjadi, orang tua cuma 'menyuapi'," tambah Evi.
Ada, lo, anak yang pintar dan tinggi daya tangkap serta daya ingatnya, namun enggak kritis. Lantaran, ibu-bapaknya cenderung cuma memberi tahu dan kerap memberi respon negatif bila anak banyak bertanya ataupun memarahi kala si anak protes. Bagaimana jika orang tua tak memberi respon positif karena tak tahu? Tak usah cemas. Menurut Evi, kita bisa, kok, mengejar ketertinggalan si anak.
Namun tentu dengan "bayaran" yang lebih mahal. Artinya, terang Evi, "proses pemahaman pengetahuan si anak akan lebih lambat dibanding teman-temannya, karena pemahaman yang sama seharusnya sudah diberikan saat anak berada dalam masa golden age di usia 2-3 tahun." Bukankah saat itu ia tengah pintar-pintarnya? Jadi, kalau stimulasinya bagus di usia itu, anak akan tumbuh optimal menjadi cerdas. Jangan lupa, lo, meski kecerdasan bersifat herediter atau bawaan, namun tak akan menjadi optimal bila tak dibarengi dengan pemberian gizi yang baik dan stimulasi dari lingkungan.  

BOLEH, KOK, MELARANG ANAK
Yang penting, dalam melarang harus disertai alasan jelas, sehingga ia tahu, ia bukan sekadar dilarang tapi ada hal-hal tertentu yang bisa mencelakakan dirinya ataupun orang lain. Misal, larangan main pisau, bisa dibarengi dengan memberi contoh memotong buah. Jelaskan, "Ade tak boleh main pisau karena pisau ini tajam dan bisa melukai tanganmu. Lihat, nih, Mama potong jeruk. Nah, terbelah, kan?" Anak pun jadi mengerti kenapa dirinya dilarang main pisau. "Dengan selalu mengemukakan reasoning , anak akan terlatih mengenali apa kesalahannya atau mengapa ia harus dimarahi orang tua," terang Evi . Cara ini juga membiasakan anak belajar konsekuensi, "Saya nggak boleh melakukan ini karena berbahaya buat saya."
Tapi kalau ia selalu dilarang, justru akan membuatnya jadi pembangkang. Coba, deh, perhatikan; semakin dilarang, anak seusia ini, kan, semakin nekat. Apalagi di usia 3 tahun, anak tengah mengembangkan negativismenya. Kalau dibilang "Kamu jangan main hujan ya," ia malah akan main hujan-hujanan. Jadi, semakin kita melarang, ia justru akan melakukan hal-hal yang kita larang. Alangkah baiknya dalam melarang kita juga mengajaknya berpikir. Misal, "Kalau Ade main hujan, nanti gimana?"
Ia mungkin akan menjawab, "Sakit." Nah, teruskan dengan pertanyaan, "Kalau sakit, nanti Ade bisa ikut jalan-jalan nggak sama Papa-Mama?" Pancing terus si anak hingga akhirnya ia sendirilah yang mengambil keputusan untuk tak main hujan. Dengan cara ini, bukan cuma larangan kita dipatuhi, anak pun jadi belajar berpikir kritis. Nah, mengembangkan kecerdasannya, kan?

SEDIAKAN MAINAN BERVARIASI
Salah satu bentuk stimulasi yang dianjurkan untuk meningkatkan kecerdasan adalah permainan edukatif. Lewat beragam permainan sederhana, anak terlatih perkembangan kognitifnya, kemampuan motorik kasar dan halus, maupun perkembangan intelegensinya. "Sebaiknya sediakan mainan bervariasi," anjur Evi .
Selain agar anak tak cepat bosan, pilihlah yang memungkinkan anak dapat menemukan semua kebutuhannya akan fungsi tiap-tiap mainan tersebut. Soalnya, ada permainan yang melatih daya ingat melalui gambar-gambar, ada yang mengasah kreativitas, dan ada pula yang bisa mempertajam daya imajinasinya. Sega atau play station , menurut Evi, boleh-boleh saja. Asalkan dibatasi agar tak merusak mata dan menjadikan ketagihan. Selain bentuk permainannya juga harus disesuaikan usia anak. Kalau tidak, apa jadinya bila anak usia 2-3 tahun asyik menikmati kekerasan lewat permainan contra dan sejenisnya.
Melakukan berbagai permainan atau aktivitas bersama anak, juga penting untuk mengembangkan kecerdasannya. Misalnya, main kuda-kudaan, pasar-pasaran, atau loncat-loncat, dan sebagainya. Jadi, tak usah malu, ya, Bu-Pak, bila harus terlibat dalam permainan si kecil. Selain itu, beri kebebasan pada anak untuk memanjat atau melompat di tempat yang ia sukai. Bila Ibu-Bapak keberatan si kecil melompat-lompat di tempat tidur, ya, sediakan fasilitas yang memungkinkan ia tetap melakukan aktivitas tersebut.
Begitu pun bila keberatan si kecil corat-coret tembok, ya, beri fasilitas untuk kebutuhannya itu. Ulurkan kertas kecil atau besar seperti yang diinginkannya. Jika ia lebih suka corat-coret di tembok, sediakan tembok khusus untuk dicoreti atau tempelkan sejumlah kertas berukuran besar di salah satu bagian tembok. Jelaskan padanya, "Ade boleh corat-coret di sini tapi di tembok lain jangan, ya." Pendeknya, kita tak boleh menghambat keinginan anak namun kita juga harus melatihnya bertanggung jawab untuk merapikan kembali mainannya atau benda-benda lain setelah ia usia melakukan sesuatu aktivitas.

ADE MAU LES MENYANYI 
Banyak, lo, orang tua yang kelewat getol mengarahkan anak. Menurut Evi , tak ada salahnya bila si anak memang suka. "Yang harus diingat, orang tua hanya sekadar mengarahkan, bukan menyalurkan ambisi pribadinya. Mungkin malah positif bisa mengarahkan anak sedini mungkin. Misal, anak berbakat menyanyi, tentu akan lebih baik bila diikutkan dalam kursus olah vokal. Ini kalau anaknya suka, lo. Kalau tidak, ya, jangan dipaksa." Jikapun si anak mau, kita juga perlu lihat-lihat lagi.
Soalnya, terang Evi, anak seusia ini cenderung akan bilang "mau" kalau ditawari les apa saja. "Dia hanya sekadar ingin tahu, ada apa, sih, di situ atau apa, sih, yang akan dia dapatkan." Bukankah anak usia ini memang sedang ingin tahu apa saja? "Tapi dia belum ada pengertian jelas kalau 'mau' berarti harus ada tindak lanjut apa. Konsekuensi logis untuk setiap tindakan jelas-jelas belum dia pahami sama sekali." Jadi, jangan salahkan si kecil, lo, Bu-Pak, kalau ia bilang mau tapi setelah beberapa kali ikut les lantas mogok.

*duta seruni*

Minggu, 21 November 2010

Bermain Sambil Belajar Untuk Anak

oleh: McMarthy



Melalui permainan dalam pembelajaran, anak tumbuh dan berkembang mempelajari hal-hal baru disekelilingnya. Ia menggunakan gerakan, fisik, dan motoriknya untuk melatih kreatifitasnya. Dengan bermain bersama teman-temannya, Ia juga meningkatkan kemampuan bahasanya dengan berinteraksi dengan teman sebayanya.

Permainan dalam pembelajaran bagi anak sangatlah perlu untuk meningkatkan kemampuan motorik anak mendeteksi lingkungan. Selain itu, dengan permainan dalam pembelajaran anak juga dapat belajar tentang banyak hal, terutama dapat menggunakan fisiknya. Anak yang kreatif cenderung dapat bersosialisasi bersama teman sebayanya dengan baik, karena dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sementara anak yang tidak kreatif lebih banyak berdiam diri dan tidak percaya diri.

Bermain Melempar Bola

Salah satu kegiatan permainan dalam pembelajaran yang sering dilakukan oleh anak adalah “melempar bola” (ball tossing). Permainan ini membutuhkan peserta 10 sampai dengan 12 anak. Alat minimal yang perlu dipersiapkan adalah bola. Tujuan permainan dalam pembelajaran pada bermain melempar bola ini adalah membiasakan anak untuk fokus dan konsentrasi. Permainan yang diberikan, mengasah kreatifitas anak, dan respon motorik anak kepada temannya.

Permainan sering dilakukan anak-anak usia sekolah dasar di kampung-kampung maupun pedesaan. Mereka tidak sadar dalam permainannya bahwa mereka sedang belajar fokus pada bola yang akan diterimanya. Permainan ini bila dilakukan berulang-ulang secara tidak langsung proses penangkapan bola itu butuh kebiasaan sehingga bisa merangsang respon motorik anak.

Cara permainan

Pada setiap permainan dalam permbelajaran tentu ada caranya. Cara bermain dalam permainan ini sangatlah sederhana. Semua anak-anak yang berjumlah 10 atau 12 anak tersebut membuat lingkaran dengan wajah menghadap ke tengah dan berhadapan dengan anak-anak yang lain.

Salah satu anak melempar bola ke temannya yang lain dengan menyebutkan buah kesukaannya dan nama anak yang diberi bola. Selanjutnya anak yang diberi bola juga menyebutkan nama buah dan nama orang yang diberi bola pada anak yang lain lagi. Mereka yang tidak bisa menyebutkan buah akan dikenakan sanksi, misalnya bernyanyi atau berjoget.

Permainan ini akan mengajarkan anak tidak hanya dari segi kognisi saja, tetapi juga melatih sikap, dan motivasi untuk mengembangkan skill yang dimiliki. Masih banyak lagi permainan dalam pembelajaran yang proses pembelajarannya tidak hanya menyentuh aspek kognisi saja melainkan juga aspek afeksi dan psikomotorik. Semoga dengan banyaknya permainan-permainan akan melahirkan generasi-generasi baru yang mandiri dan mampu mengembangkan imajinasinya.

Opsi seorang pendidik menghadapi anak-anak yang bermasalah



Tolok ukur keberhasilan seorang guru dapat ditentukan berdasarkan sikap dan perilaku anak-anak didiknya.  Sebagai pendidik, seorang guru akan merasa berhasil apabila anak-nak didiknya mau bekerjasama dalam proses belajar mengajar.  Makna kerjasama adalah bersama-sama melakukan tugas dalam rangka proses pembelajaran.  Tetapi adakalanya sikap dan perilaku anak-anak didik menyebabkan seorang guru tidak tahan dan ingin cepat-cepat menyelesaikan sesi pembelajarannya. 
Sebenarnya sikap dan tingkah laku anak-anak yang tidak mau bekerjasama merupakan dampak permasalahan dalam proses perkembangannya.  Banyak anak yang bahkan harus kehilangan masa kanak-kanaknya karena orang tua yang sibuk.  Sementara anak-anak lainnya dibesarkan oleh pengasuh(nanny).  Anak-anak itu diharuskan mandiri sebelum waktunya, akibatnya mereka mengalami stress atau bahkan depresi.
Apa yang harus dilakukan seorang guru? Sebagai seorang pendidik di sekolah, guru dituntut berperan sebagai orang tua.  Seorang guru harus mengerti bahwa dimanapun anak-anak berada, baik di sekolah maupun di rumah, tidak banyak bedanya.  Berikut adalah tujuh opsi yang sangat bermanfaat dan efektif untuk diterapkan di rumah maupun di sekolah.
1.       Memberi penjelasan apabila ada masalah atau kejadian insidentil di kelas.  Misalnya, seusai kelas melukis ada cat air yang tumpah di lantai. Sebaiknya seorang guru berkata,”Lihat, di lantai ada tumpahan cat air”. Atau ketika guru mendapatkan kertas ujian tanpa nama. Sebaiknya seorang guru berkata,”Kenapa saya dapat kertas yang tidak ada namanya?” Juga apabila anak-anak asik ngobrol di kelas. Seorang guru boleh permisi keluar kelas sebentar untuk kemudian kembali dan mengatakan bahwa suara mereka sangat jelas terdengar sampai hall atau ruangan lain.
2.       Berperan sebagai seorang informan.  Misalnya, suatu hari guru menemukan ada meja yang dicoret atau anak-anak mencoret meja.  Sebaiknya guru mengatakan bahwa meja bukan tempat untuk menuliskan sesuatu, tetapi kertas.  Atau di kelas komputer ada anak yang menggoreskan sesuatu di atas disket komputer. “Disket komputer tidak bisa lagi dipakai jika tergores atau kotor”.
3.       Memberikan pilihan/opsi.  Misalnya, setelah seorang anak selesai membuat bentuk bangunan dengan balok atau lego, dia tidak mau membereskannya. “ Bagus sekali istana yang kamu buat! Pasti kamu akan membuat istana lagi besok. Kalau begitu kamu boleh menyimpan balok-balok itu di dalam rak yang sudah disediakan atau ke dalam kotak itu”.
4.       Memberi perintah dengan pesan singkat atau satu kata.  Misalnya, seorang anak tidak memulai kalimat dengan huruf besar. Katakan, “Huruf besar!” Atau setelah seorang anak membuka pintu tetapi tidak menutupnya kembali, “ Pintu!”.
5.       Berkomunikasi dengan gerakan atau bahasa tubuh. Misalnya kelas sangat gaduh, seorang guru menempelkan jari telunjuknya ke mulut.
6.       Mengungkapkan perasaan anda.  Misalnya anda sedang menerangkan pelajaran, sementara anak-anak ngobrol. “ Saya merasa sedih dan frustrasi kalau tidak ada yang mau mendengarkan saya”.
7.       Menyampaikan pesan atau perintah melalui tulisan.  Misalnya guru menyediakan kotak dimana tugas-tugas dikumpulkan; di kotak tersebut dituliskan pesan “ Akan lebih baik kalau mencantumkan nama dan tanggal”.

Senin, 15 November 2010

Agar Anak Tetap Kreatif

oleh: Aiman 

Ada 3 ciri anak kreatif yang dominan : 

1. Spontan  2. Rasa ingin tahu 3. Tertarik pada hal-hal yang baru.  Dan ternyata ke 3 ciri-ciri tersebut terdapat pada diri anak. Berarti semua anak pada dasarnya adalah kreatif dan faktor lingkunganlah yang menjadikan anak tidak kreatif. Sedangkan kewajiban orang tua sebenarnya bukanlah mencetak, tetapi lebih pada mempertahankan agar anak tetap kreatif sebagaimana aslinya. 

Apakah kita sebagai orang tua mampu untuk mempertahankan kreatifitas anak ? Ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu kita untuk memahami sudah seberapa jauh kemampuan kita dalam hal ini : 

a) Apakah kita menerima segala kelebihan dan kekurangan anak kita dan apakah kita mensugesti mereka bahwa mereka mampu atau sebaliknya ? b)Apakah kita senantiasa menyadari bahwa setoap individu adalah unik dan setiap anak ada-lah otentik, tidak sama dan tidak akan dapat disamakan dengan anak lain ? c)Apakah kita menyadari bahwa kreatifitas itu bersifat multi dimensional dan setoap anak memiliki kimensi kreatifitasnya sendiri-sendiri ? d) Sudahkah kita mencoba mencari dan menelusuri sendiri minat-minat dan bakat-bakat apa yang dimiliki oleh anak-anak kita satu persatu ? e) Apakah kita telah memberikan dorongan dan cukup menghargai gagasan-gagasan anak kita, atau sebaliknya ? f) Sudahkah kita memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap apa-apa yang tengah dikerjakan oleh anak-anak kita, misalnya dengan ikut melakukan aktifitas bersama anak ? g) Apakah kita senantiasa memper-kenalkan berbagai hal yang baru kepada anak-anak kita, atau justru sebaliknya (menyembunyikannya) ? h) Apakah kita menghadapi anak-anak kita secara santai atau dengan penuh ketegangan ? i) Sudahkan kita memberikan waktu, tempat, kemudahan dan bahan-bahan agar anak kita kreatif ? j) Sudahkah kita memberikan anak-anak kita iklim dan pojok khusus untuk melakukan aktifitas mereka ? k) Apakah selama ini kita menilai hasil kreasi anak kita atau kita lebih tertarik untuk memperhatikan prosesnya ? l) Apakah selama ini kita menilai hasil kreasi anak dengan menggunakan perspektif kita atau dengan menggunakan perspektif anak ? m)Apakah kita selama ini cukup terbuka terhadap gagasan dan kreasi anak yang tidak lumrah ? n)Sudahkah kita memberi penguatan terhadap hasil kreasi anak atau justru melemahkannya ?


Tips-Tips Mendidik Anak Sejak Dini

oleh: Agustnasihin


Berikut ini adalah beberapa tips mendidik anak sejak usia dini :

1. Berikan contoh dengan mengajaknya ikut serta pada kegiatan sehari-hari yang positif. -Membersih ruangan rumah,Biasanya anak-anak yang suka bermain-main dengan mainanya akan membuat situasi berantakan di ruangan rumah, ajarkan pada anak untuk bisa membersihkan dan merapikan sendiri setelah selesai bermain. -Membaca buku-buku bacaan. Buku-buku bacaan sebagai altenatif guru yang baik. Buku sebagai sumber ilmu yang tiada batas,banyak jenis buku yang bisa dibaca dan mebahas berbagai tema dan masalah. -Membaca Majalah atau Koran,dengan membaca koran dan majalah akan menambah wawasan pada orang tua sehingga bisa mempunyai wawasan yang lebih luas dan bisa diajarkan. -Membaca Kitab Suci.Dengan mendengarkan acaan kitab suci biasanya sianak akan memiliki spiritual yang lebih baik bila dewasa kelak. -Menulis,Anak akan memperhatikan bila orang tua sedang menulis dan akan menirunya dengan coret-coret, biasanya didinding namun sebaiknya dibuku-buku yang telah disediakan orang tua,sehingga termasuk juga mengajarkan keapian dan kebersihan. -Bagi keluarga yang punya halaman berumput, biasanya setiap bulan sekali rumput akan jadi panjang dan tidak beraturan, maka anak bisa diajari juga bagaimana merapikan halaman. -Mencuci kendaraan,baik motor maupun mobil bila tidak terlalu kotor bisa dicuci sendiri dirumah, sekaligus mengajarkan anak bagaimana memperlakukan kendaraan. -Mengajak kebengkel, biasanya anak akan senang bila diajak ikut serta kebengkel,dan biasanya akan menambah ide bagi si anak untuk lebih mengenal jenis kendaraan bermotor,bisa juga nanti menjadi idola sianak untuk berwiraswasta dengan membuka bengkel dan lain-lain.

2. Berikan contoh untuk mentaati waktu, Yaitu waktu bermain, waktu belajar dan waktu tidur. Biasanya anak dibawah lima tahun memerlukan waktu tidur lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.Sehingga sebagai orang tua terutama Ibu harus bisa mengajarkan waktu-waktu kapan harus bermain dan kapan harus beristirahat. Hal ini dilakukan untuk kesehatan anak itu sendiri.

3. Menghindarkan anak-anak dari hal-hal yang bersifat buruk. -Bertengkar didepan anak-anak, karena dengan bertengkar didepan anak-anak secara otomatis akan memberikan contoh kekerasan dalam keluarga didepan anak, sehingga bisa menimbulkan trauma psikis pada si anak itu sendiri. -Membiarkan anak tidak disiplin, kadang didikan keras bisa membuat disiplin pada sianak,dengan dimanja anak tidak bisa mandii dan bertanggung jawab. -Memukul anak secara langsung didepan anak-anak yang lain, akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan diri si anak. -Bila Ayah sedang keras pada anak, dalam arti tujuan mendidik si ibu tidak boleh membela si anak, sebab bila dibela si anak tidak akan jera bila melakukan kesalahan. Sebaliknya bila Si Ibu sedang keras pada anak dalam arti mendidik,Sang ayah pun tidak boleh membela kesalahan pada anak,. Sehingga terjalin kerjasama mendidik anak yang baik dan seimbang. -Jangan berikan tontonan baik berupa film-film kekerasan atau Sinotron drama yang bersifat cengeng dan mendramatisi, untuk menghindari anak dari sifat-sifat yang kurang baik dari dampak yang ditontonnya.

4. Sisakan waktu bersama Anak-anak. Ditengah-tengah kesibukan sebagai orang tuan sisakan waktu untuk bermain bersama anak-anak,sehingga timbul rasa kasih sayang sekaligus pembelajaran pada anak.

5. Usia 7 tahun, bagi yang Moslem bila sampai belum Sholat ajarkan dengan sedikit keras, bisa dengan cambukan untuk mengingatkan anak agar segera sembahyang.

6. Diatas usia 7 tahun, Anak akan bisa diberikan tangung jawab yang lebih, sehingga tidak terlalu merepotkan orang tua.
Semoga berhasil Good Luck!

Anak Cerdas

oleh: Ferry Djajaprana


Nama Peresensi : Verri Jaya Priyana Nama Samaran : Ferry Djajaprana Penulis : Dini Kasdu 
Penerbit : Puspa Swara Tahun : 2004 Cetakan : Ke 1 Halaman : vi + 152 hlm, 23 cm
 
Semua orangtua, pasti mendambakan si buah hati tumbuh sehat dan cerdas. Dari generasi yang sehat dan cerdas ini diharapkan dapat menjadi tonggak kemajuan bangsa. Hal ini menjadi tanggung jawab orangtua yang merupakan orang terdekat bagi anak. Hanya saja untuk merealisasikannya bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya dibutuhkan pemenuhan secara materi, tetapi juga secara mental dan social. Yang lebih penting lagi, kemauan dan pengetahuan orang tua untuk dapat melakukan semua upaya itu sejak merencanakan kehadiran anak hingga anak itu tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri.
Sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak merupakan suatu proses. Perjalanan dan hasil akhir dari proses ini sangat bergantung pada orangtua. Perlakuan orang tua menentukan masa depan anak.

Anak itu ibarat kertas putih, tergantung orang tuanya mau membuat apa anaknya itu. Beberapa ahli mengemukakan bahwa orangtua dapat membuat anaknya menjadi lebih cerdas jika dalam keluarga dibangun suasana yang hangat dan penuh kasih sayang dan lingkungan yang kondusif, sanggup meningkatkan taraf kecerdasan anak menjadi lebih baik. Sebaliknya anak yang lahir dengan kecerdasan tinggi, tetapi hidup dalam keluarga yang kurang kasih sayang dan lingkungan yang tidak mendukungnya, anak tidak akan berkembang menjadi anak yang cerdas.

Demikian uraian Dini Kasdu, dalam bukunya karangannya yang berjudul Anak Cerdas, A-Z panduan mencetak kecerdasan buah hati sejak merencankan kehamilan sampai balita. Dini menjelaskan idenya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan gamblang sehingga mudah dimengerti bagi siapa saja yang membacanya.

Untuk pasangan yang baru memulai maghligai rumah tangga diharapkan kesadarannya untuk mempersiapkan diri baik secara fisik dan mentalnya. Peranan Ibu sejak masa prakonsepsi (sebelum pembuahan) menentukan kesehatan dan kecerdasan anak yang akan dilahirkan. Idealnya, hal ini dilakukan jauh sebelum kehamilan terjadi karena kualitas generasi yang akan dilahirkan dipengaruhi oleh masa sebelum dan selama kehamilan. Karena masa lalu, masa kini maupun mkasa yang akan datang akan saling mempengaruhi.


Pada masa kehamilan perlu diperhatikan terhadap dua masa kritis yang berdampak pada janin.
Masa kedua berlangsung sejak awal minggu ke delapan sampai saat kelahiran. Masa ini merupakan periode penyempurnaan proses tumbuh kembang organ tubuh yang telah dibentuk pada peroiode sebelumnya. Jika terjadi gangguan pada masa ini, janin beresiko menderita gejala kelainan fisiologis sejak lahir dan semakin parah pada saat dewasa nanti.
Pada masa kehamilan, salah satu agenda yang harus dijadwalkan dalam masa kegiatan ibu hamil adalah memeriksa kehamilannya secara rutin. Tahap selanjutnya setelah masa kehamilan adalah masa bayi, bawah tiga tahun (batita), dan bawah lima tahun (balita). Masa-masa tersebut menjadi emas untuk pembentukan manusia kelak dikemudian hari.

Setelah usia anak menginjak bawah tiga tahun juga merupakan usia perkembangan anak yang kritis. Masa batita adalah masa keemasan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pada usia lima tahun pertama, seorang anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang. Pada usia ini, 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk karena dimasa ini anak sudah mulai bisa diarahkan.
Kemudian dalam penutupan buku tersebut, Dini menuturkan bahwa masalah kecerdasan generasi, banyak factor yang ikut berperan. Pemenuhan factor-faktor itu yang menentukan sejauh apa kecerdasan seorang anak. Untuk mendapatkan anak cerdas tidak hanya dengan memberi makanan sehat dan perawatan baik. Namun juga, lingkungan psikologis yang mendukung sejak dalam kandungan hingga usia lima tahun. Tidak ada kata terlambat dari pada tidak melakukan sama sekali. Jika pengetahuan ini barudiketahui setelah kehamilan atau anak baru berumur satu tahun, tidak ada kata menyesal tanpa berbuat apa-apa. Setiap masa dan upaya akan memperoleh hasilnya. Jadi segera bertindak, jangan tunggu waktu berlalu. Orang tua, khususnya ibu memegang peranan yang sangat penting dan menentukan. Untuk itu diperlukan seorang ibu yang terjaga kesehatan fisiknya, mental dan social serta pendidikan yang memadai.

Pada akhirnya, memang orangtua yang menentukan apakah yang ingin ia berikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak anaknya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pekembangan dan peningkatan kualitas anak yang sebenarnya adalah menjadi tanggung jawab orang tua. Hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, orangtua perlu berusaha semaksimal mungkin.

Penyusun, Ferry Djajaprana

Rangsang Kreativitas Anak Dengan Menulis

oleh: Tedifa


Menulis bagi anak-anak dapat meningkatkan kreativitas bahwa dengan menulis anak dilatih untuk berperasaan lebih halus dan perduli pada penderitaan sesama. Penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog menerangkan bahwa menulis emosi dalam sebuah tulisan, bisa membuat anak-anak lebih mudah memahami diri sendiri juga orang lain dan lingkungannya. Kendala yang kita hadapi sekarang adalah ketidakpedulian orangtua terhadap kebutuhan akan menulis bagi anak-anaknya. Bagi anak-anak yang pernah mengalami tindak kekerasan seksual ataupun tindak kekerasan dalam rumah tangga, menulis dapat membantu menghilangkan trauma yang diderita.

Anak Cerdas dan Kreatif Berkat Alunan Musik

oleh: Sefrizal 


* duta seruni *

Opsi seorang pendidik menghadapi anak-anak yang bermasalah

oleh: Olailani



Sebenarnya sikap dan tingkah laku anak-anak yang tidak mau bekerjasama merupakan dampak permasalahan dalam proses perkembangannya.  Banyak anak yang bahkan harus kehilangan masa kanak-kanaknya karena orang tua yang sibuk.  Sementara anak-anak lainnya dibesarkan oleh pengasuh(nanny).  Anak-anak itu diharuskan mandiri sebelum waktunya, akibatnya mereka mengalami stress atau bahkan depresi.

Apa yang harus dilakukan seorang guru? Sebagai seorang pendidik di sekolah, guru dituntut berperan sebagai orang tua.  Seorang guru harus mengerti bahwa dimanapun anak-anak berada, baik di sekolah maupun di rumah, tidak banyak bedanya.  Berikut adalah tujuh opsi yang sangat bermanfaat dan efektif untuk diterapkan di rumah maupun di sekolah.

1. Memberi penjelasan apabila ada masalah atau kejadian insidentil di kelas.  Misalnya, seusai kelas melukis ada cat air yang tumpah di lantai. Sebaiknya seorang guru berkata,”Lihat, di lantai ada tumpahan cat air”. Atau ketika guru mendapatkan kertas ujian tanpa nama. Sebaiknya seorang guru berkata,”Kenapa saya dapat kertas yang tidak ada namanya?” Juga apabila anak-anak asik ngobrol di kelas. Seorang guru boleh permisi keluar kelas sebentar untuk kemudian kembali dan mengatakan bahwa suara mereka sangat jelas terdengar sampai hall atau ruangan lain.

2. Berperan sebagai seorang informan.  Misalnya, suatu hari guru menemukan ada meja yang dicoret atau anak-anak mencoret meja.  Sebaiknya guru mengatakan bahwa meja bukan tempat untuk menuliskan sesuatu, tetapi kertas.  Atau di kelas komputer ada anak yang menggoreskan sesuatu di atas disket komputer. “Disket komputer tidak bisa lagi dipakai jika tergores atau kotor”.

3. Memberikan pilihan/opsi.  Misalnya, setelah seorang anak selesai membuat bentuk bangunan dengan balok atau lego, dia tidak mau membereskannya. “ Bagus sekali istana yang kamu buat! Pasti kamu akan membuat istana lagi besok. Kalau begitu kamu boleh menyimpan balok-balok itu di dalam rak yang sudah disediakan atau ke dalam kotak itu”.

4. Memberi perintah dengan pesan singkat atau satu kata.  Misalnya, seorang anak tidak memulai kalimat dengan huruf besar. Katakan, “Huruf besar!” Atau setelah seorang anak membuka pintu tetapi tidak menutupnya kembali, “ Pintu!”.

5. Berkomunikasi dengan gerakan atau bahasa tubuh. Misalnya kelas sangat gaduh, seorang guru menempelkan jari telunjuknya ke mulut.

6. Mengungkapkan perasaan anda.  Misalnya anda sedang menerangkan pelajaran, sementara anak-anak ngobrol. “ Saya merasa sedih dan frustrasi kalau tidak ada yang mau mendengarkan saya”.

7. Menyampaikan pesan atau perintah melalui tulisan.  Misalnya guru menyediakan kotak dimana tugas-tugas dikumpulkan; di kotak tersebut dituliskan pesan “ Akan lebih baik kalau mencantumkan nama dan tanggal”.

Minggu, 14 November 2010

Di Hotel JW Marriott, Anak-anak Paud Belajar Membuat Donat

Bertempat dilantai 3 Hotel JW Marriott Surabaya, Jumat (22/10) anak-anak Paud Duta Seruni RW V Kedung Rukem Tengah, Surabaya mengikuti acara cooking class yang digelar oleh Hotel JW Marriott Surabaya. Anak-anak tidak hanya melihat tetapi diajak ikut membuat.

"Ini memang bagian dari spirit to serve our community yang secara rutin sudah kami gelar sejak beberapa tahun sebelumnya. Dan pada kesempatan kali ini, kami mengajak siswa Paud untuk ikut melihat serta ikut berpraktek membuat donat," ujar WIKE TRISNANDHINI Communication Manager Hotel JW Marriott Surabaya.

Ditemani ALBERT KAINDLBAUER General Manager Hotel JW Marriott Surabaya, anak-anak langsung membuat donat sejak dari proses membuat adonan sampai dengan menghias donat dengan berbagai topping, sampai dengan proses terakhir, yaitu menggoreng.

Tampil mengenakan topi layaknya seorang chef, anak-anak berbaris rapi satu per satu dihadapan sebuah meja bersama denganENDRA YUDHA chef de pastry Hotel JW Marriott Surabaya, mulai membentuk bagian adonan yang udah dibagikan menjadi bulat dan tengahnya berlubang.

Hasilnya, tentu saja tidak serapi dan sebagus yang dibuat oleh para chef yang sesungguhnya. "Tujuannya memang ingin memperkenalkan anak-anak dengan aktivitas di kitchen hotel, sekaligus kemudian diajak mencoba membuat donat. Kami memang ingin berbagai kebahagiaan," tambah WIKE saat berbincang dengan suarasurabaya.net, Jumat (22/10) disela-sela acara.(tok)

* duta seruni *

Paud Duta Seruni Bikin Donat di Marriott



Vanessa Gwieneth terlihat bengong melihat Albert Kaindlbauer yang piawai memutar adonan donat di sela jari-jemarinya. Bocah empat tahun murid Paud Duta Seruni itu berusaha menirukan aksi general manager Hotel JW Marriott tersebut. Tapi sayang, bolak-balik dicoba, ia selalu gagal. Seolah tahu keinginan Vanessa, Albert pun mendekati bocah berkaos olahraga warna kuning dan orange tersebut. Albert tak segan untuk mengajarinya. Dua kali diberi contoh, Vanessa langsung bisa. Ia pun bersorak kesenangan. “Asyik donatku enggak copot lagi,” kata Vanessa yang akrab disapa Ay Ay.
Vanessa bersama puluhan murid Paud Duta Seruni, Jumat (22/10), mendapat undangan khusus dari JW Marriott untuk datang ke hotel bintang lima  tersebut.  Bertempat di pinggiran kolam renang lantai 4, mereka diajak membuat sekaligus menghias donat. “Acara ini kami gelar untuk  mengajak anak-anak belajar mandiri sekaligus berkreativitas,” ungkap Wike Trisnandhini, marketing communication manager JW Marriott.
Uniknya, hampir semua murid Paud Duta Seruni yang diantar oleh orang tua maupun guru mereka, baru pertama kalinya menginjakkan kaki di hotel bintang lima tersebut. Tak heran banyak yang bengong sekaligus mengaguminya. “Benar-benar  pengalaman yang berkesan bagi kami semua,” aku Uci Utari, ketua Paud Duta Seruni.
Begitu tiba di pool terrace, anak-anak tersebut langsung duduk mengeliling meja yang sudah disediakan. Di atas setiap meja ada semacam nampan dengan beberapa macam adonan donat. Dipimpin Chef Endra Yudah, mereka terlihat antusias mulai pertama membuat adonan. “Lho itu mixer ya. Kok besar, Bunda,” tanya Aviasyah Ahmad Alhabsi.
Mendengar pernyataan itu, Chef Endra hanya tersenyum. Ia lalu memberikan penjelasan. “Kalau di hotel bikin donatnya kan banyak. Jadi mixernya butuh yang sebesar ini. Fungsinya sama kok dengan mixer milik mama di rumah kalian,” jelasnya.
Ditambahkan Uci, selain untuk melatih kemandirian, belajar di lokasi outdoor juga untuk melatih syaraf motorik anak-anak tersebut. Acara ini juga untuk mengenalkan cara membuat  beragam kue, sehingga mereka bisa menirunya di rumah. “Juga supaya enggak malas masuk dapur,” imbuh perempuan berjilbab itu. (opi) 
* duta seruni *